Feeds:
Posts
Comments

Aku ingin seperti Khadijah yang sangat mencintai RabbNya lebih dari nyawanya sendiri

Aku ingin seperti Khadijah yang sangat mencintai suaminya dikala susah dan senang

Aku ingin seperti Khadijah yang selalu taat kepada suaminya sepanjang hidup

Aku ingin seperti Khadijah yang menjaga kehormatannya begitu luhur, sehingga embun pagi pun tak ingin jatuh dari daun

Aku ingin seperti Khadijah yang menyayangi anak – anaknya dengan sepenuh hati

Tapi, aku masih jauh dari seorang Khadijjah. Aku banyak melakukan maksiat kepada Allah. Ibadahku yang makin melonggar, tahajjud sering kulewatkan, shaum sering kutinggalkan, shadakah sering terlupakan, tilawah yang berkhianat pada Makhrijul huruf.

Tapi aku masih jauh dari seorang Khadijah. AKu banyak melanggar sunnah Nabi. Seringnya aku mengeluh daripada ikhlas, seringnya aku berghibah daripada berdzikir, seringnya aku bercanda dengan lawan jenis daripada menahan pandangan.

Tapi aku masih jauh dari seorang Khadijah. Aku seorang akhwat, tapi tak lihat situasi. Kurang menjaga Izzah di depan khalayak, berlumpur dosa dengan masa lalu yang pekat.

Tapi satu hal,

Aku yakin, suatu saat nanti aku akan mendapatkan sesuatu seperti Khadijah

karena

Kahdijah, senyummu menyejukkan hati

Ajari Aku Mengaji

Ini sebuah kisah nyata yang bisa kita ambil hikmahnya.

Seorang wanita yang masih lajang di umurnya yang genap 30 tahun, mengazamkan dirinya untuk secepatnya mendapat jodoh. Namun, Allah masih belum berkenan memberikannya. Wanita itu tetap berprasangka baik dan tetap berdoa supaya cepat dikabulkan permintaannya.

Suatu hari, dia berangkat kerja dan menemukan sebuah Al-Qur’an yang tergeletak di teras kantornya. Lalu dia bertanya – tanya, Al – Quran siapakah yang berada di teras kantornya tersebut? Karena takut terlambat, maka dia bergegas masuk kekantornya dan sambil membawa Qur’an tersebut.

Suasana seperti biasanya, sibuk dan sibuk bekerja yang wanita itu lakukan. Al – Qur’an itu hanya tergeletak tanpa daya di meja kerjanya. Waktu yang dia lalui hanya bekerja, dengan waktu shalat yang terlewat, dan Qur’an itu masih tetap tergeletak begitu saja. Hari sudah senja, dan wanita itu pulang ke rumahnya, meninggalkan Qur’an yang tergeletak di mejanya.

Keesokkan harinya, ketika dia sampai di teras kantor, alangkah terkejutnya ketika dia menemukan kembali Al Qur’an yang tergeletak lagi denga posisi dan letak yang sama dengan yang kemarin. Dia bertanya  tanya, siap yang memindahkan Qur’an itu? Padahal dia menyimpan di mejanya.

Hari – hari berikutnya, wanita itu selalu menemukan Qur’an yang tergeletak di teras. karena penasaran, dia membuka Qur’an tersebut. Tiba – tiba, angin yang kencang menyergap dirinya, dan Al Qur’an itu terbuka, muncullah satu surat :

Iqra, bismirobbikalladzi kholaq (Bacalah dengan nama Tuhanmu)

Wanita itu tercengang, seketika air matanya meleleh dan dia terkulai lemas. Dia menangis sekuat tenaga, menyesali bahwa dia telah lupa dan lalai terhadap pedoman hidupnya selama ini. Wanita itu masih tak beranjak dari teras kantornya. Tiba – tiba,  teman kerjanya  berkata ada apa ?

lalu wanita itu berkata : Ajari aku mengaji….

Mom, I’m Soory!!

Mom, aku ga bermaksud buatmu marah. Aku yang salah dan aku terima hal itu. Pandangan Mom tentangku itu bener!Aku teledor, ceroboh, tak bisa kerja dengan baik, dan sikap – sikap negatifku yang lainnya. Tapi Mom, aku ga mau diberikan identitas yang seperti itu terus! Aku selalu berusaha buat berubah dan menjalani kehidupanku lebih baik. Manusia itu belajar sepnjang hidupnya, termasuk aku.

Mom, aku sadar aku salah. Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai orang yang tidak tahu apa – apa. Tapi, kadang aku sulit memahamimu, jika engkau juga sulit memahami keadaanku sekarang. Mom, engkau Ibuku, dan satu – satunya Ibuku yang tak pernah tergantkan oleh siapapun. Aku sangat rindu bisa berdiskusi lagi denganmu, berbagi cerita yang selalu kita lakukan.

Mom, ketika engkau marah kepadaku, dan panjang lebar memarahiku, aku akan tetap diam, aku tak mau menyanggah apapun yang Mom katakan kepadaku. Biarlah aku diam, sampai Mom telah benar – benar reda dan mau memaafkanku

Mom, i love u so much!

Please Forgive me,

Mom, I’m Soory!

Aku Selalu Menunggumu

“Pernahkah anda mendapati sesuatu hal yang anda harapkan tak sejalan dengan kenyataan yang ada?”

Tulisan di sebuah majalah itu mengingatkanku akan sebuah peristiwa yang pernah aku alami. Harapan yang membumbung tinggi, angan – angan yang indah, dan berjuta bunga impian yang indah. Salah satu harapan yang terindah adalah cinta. Cinta adalah anugerah yang jika memilikinya, cinta mempunyai kekuatan mahadahsyat, energi yang bermuatan super cluster. Namun, bila cinta terpatahkan karena suatu bencana hati, terbelah menjadi dua bagian yang menjadikan luka menganga pada setiap sudut – sudutnya, sungguh merupakan sembilu yang terperi.

Aaah…hidup memang tak selalu mudah, tapi jangan dipersulit

Aku punya harapan yang masih bisa diharapkan. Selama belum kulihat tanda – tanda berakhirnya harapan, aku masih bisa membuatnya menjadi mungkin. Tak ada yang tak mungkin mengenai harapan. Semuanya punya peluang, tergantung besar kecilnya peluang itu. Harapanku adalah cintaku yang akan kuraih sesuai dengan keinginanku.

 Wahai harapanku, keinginanku saat ini adalah :

Aku selalu menunggumu

Aku,Ojek Ungu,dan Selokan

Malang benar nasib pujangga yang satu ini, siapa?Ya,aku!Kenapa? ojek langgananku, yang motornya berwarna ungu yaitu Mang Oday tak sempat menolongku. Pagi yang sedikit membuatku gerah, tak menyurutkan langkahku untuk bekerja. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi, apa boleh buat, aku harus tetap bekerja. Di seberang jalan sana, Mang Oday sudah menungguku, lalu aku cross a street alias nyebrang alias meuntas jalan. Mang Oday sudah siap – siap dengan motornya, aku pun begitu, siap duduk di motornya. Tapi, pas aku mau duduk sepatuku yang longgar sedikit terlepas, lalu aku turun dengan satu kaki untuk membetulkan posisi sepatuku. Tak ada 30 detik,Gubraaak!! kakiku menobros selokan, setengahnya masuk selokan, aku mencoba untuk bangkit dengan mengangkat tanganku, maksudnya adalah berat tubuhku juga ikut terangkat. Tapi,Bruuuukk!!!Ya Alloh..Please donk..Tanganku malah ikut masuk selokan juga. Disebrang sana tukang bubur yaitu Mang Usep beserta pelanggannya yang lagi makan bubur, kaget sekaligus mukanya memerah menahan tawa. Mang Oday yang setia kepadaku, ternyata tak setia menolongku, malah celingukan dan bingung melihatku terperosok. Duuuuuuhhh….numpang tanya deh ke toko sebelah…malunya aku kayak gimana….super duper malu yang tak terkira,rasa sakit karena tangan dan kakiku memar, dan Mnag Oday yang hanya bilang..”Teu Nanaon Neng??”Haaahh..??Kecebur di selokan masih bilang teu nanaon???
chappeee..deehh…!!!

Tes Formatif

“Anak – anak, besok adalah waktunya tes formatif Matematika tentang perkalian”kataku. Sebagian anak berkata “Yes!!”dan beberapa anak ada yang menunjukkan muka pasrah menghadapi sekelumit soal – soal perkalian yang siap menghantuinya nanti malam.Besoknya, datang juga hari dimana tes formatif itu berlangsung. Soal dibagikan, dan mulailah anak – anakku bekerja mengerjakan soal. Komat – kamit menghitung, garuk – garuk kepala, menekuk muka, memancungkan mulut, bahkan bolak – balik ke kamar mandi karena beser.

“Anak – anak, waktunya tinggal sepuluh menit lagi!”kataku menyeru. Respon yang terjadi bermacam macam, ada yang menjerit, melotot, berkeringat dingin, tapi ada juga yang senyum – senyum karena sudah beres mengerjakan dari tadi. Hanya butuh waktu10 menit bagi Aly untuk bisa mengerjakan 30 soal perkalian. Tapi, bagi Hilman, mengerjakan 30 soal perkalian sama saja menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan, berwudhu, dan shalat dzuhur.

“Anak – anak, waktunya habis!”kataku lagi. Semua mengumpulkan soal, dan hanya Hilman yang masih tinggal di bangku, masih mengerjakan soal.Aku menghampirinya, dan menemukan kondisi kertas ulangan yang kotor, penuh bekas hapusan pensil. Hilman memandangku sesaat, matanya menyiratkan permohonan untuk memaafkannya karena terlambat, sekaligus kepasrahan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan soal dengan baik.

“Bu, belum selesai dikerjakan soal ceritanya”katanya dengan wajah memelas dan lelah. Aku mengusap rambutnya, dan tersenyum getir. Hilman, seorang anak orang kaya, yang kurang perhatian,berjuang disini mengerjakan soal perkalian.Tapi, dia terus berjuang mengerjakan soal, walaupun teman – temannya sudah beres makan, sudah siap untuk shalat dzuhur, namun tekadnya besar untuk menyelesaikan semua soal perkalian itu.

Aku terkantuk – kantuk menunggui Hilman yang sedang mengerjakan ulangan. Tiba – tiba ada yang menggucang – guncangkan bahuku. “Bu, sudah selesai,ini kertas ulangannya, Hilman mau makan”. aku mengngguk dan menerima kertas ulangan itu.

Nomor 1,2,3,4,5….30
Benar semua!!!
Hilman yang selalu remedial saat formatif
Hilman yang selalu telat mengumpulkan soal formatif
Ternyata…
Tekad yang kuat, kemauan yang besar untuk belajar, berbuah manis..

Aahh…Muridku yang satu ini,
Kamu menginspirasi Ibu untuk tak patang arang, selalu berusaha dan tak kenal lelah
Ibu salut kepadamu Nak!
Semangat selalu ya Man!
I love You Son!

Bule

               Saat itu, dikala hari menjelang malam, dan matahari sudah lelah menampakkan sinarnya hingga ingin tenggelam, tibalah saatnya bagi rembulan mengumbar cahayanya yang tenang. Nanang yang baru pulang dari kantor menyapa Mang Jana yang sedang mangkal di pangkalan ojek depan komplek. “Mang, kumaha yeuh? Rame teu penumpang dinten ieu?”Mang Jana dengan wajah yang lesu menjawab “yaaah..Nang, kieu weeehh..rada tiiseun, meuni ngahelas geuningan…”lalu Nanang pun menghiburnya “Yahh, sabar atuh Mang, mudah mudahan dapet penumpang”.

         Tiba – tiba ada seorang laki  laki dengan tubuhnya yang tegap, tinggi dan pakaiannya rapih menghampiri mereka. sontak Mang Jana memburu orang itu dengan melajukan motornya. Tapi, karena hari sudah gelap, wajah orang itu tak jelas terlihat. Lalu Mang Jana bertanya kepada orang itu. Namun sebelum bertanya, Mang Jana kaget ternyata orang itu orang bule. Karena kagum melihat orang bule yang akan naik ojeknya itu, Mang Jana berteriak pada Nanang.” Nang..Bule..Nang…Bule..Nang”Tiba – tiba orang bule itu menampar Mang Jana. Pllakk!!Mang Jana kaget, lalu segera naik pitam karena harkat martabatnya sebagai tukang ojek yang disegani merasa dilecehkan oleh orang bule. Mang Jana marah  marah” Apa maksud kamu teh, naha beut nyabok sayah??!Si bule tersebut mejawab dengan marah  marah juga “urang teu tarima disebut bolenang, buuk urang masih ayaan nyaho teu??!!”lalu si Bule tadi meleos begitu saja. Mang Jana tercenung, ada bule bisa ngomong bahasa sunda, namun lebih tercenung lagi ketika dia ditampar oleh bule. Dan sungguh – sungguh tercenung ketika melihat Nanang hanya melongo gitu aja, dan mengangkat tangan tanda tidak ikut campur, sambil pergi dari hadapan Mang Jana.

Duuuhh..Bule…betapa kejamnya dirimu kepada tukang ojek seperti Mang Jana…teungteuingeun atuh. bule teh….