Aku,Ojek Ungu,dan Selokan

Malang benar nasib pujangga yang satu ini, siapa?Ya,aku!Kenapa? ojek langgananku, yang motornya berwarna ungu yaitu Mang Oday tak sempat menolongku. Pagi yang sedikit membuatku gerah, tak menyurutkan langkahku untuk bekerja. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi, apa boleh buat, aku harus tetap bekerja. Di seberang jalan sana, Mang Oday sudah menungguku, lalu aku cross a street alias nyebrang alias meuntas jalan. Mang Oday sudah siap - siap dengan motornya, aku pun begitu, siap duduk di motornya. Tapi, pas aku mau duduk sepatuku yang longgar sedikit terlepas, lalu aku turun dengan satu kaki untuk membetulkan posisi sepatuku. Tak ada 30 detik,Gubraaak!! kakiku menobros selokan, setengahnya masuk selokan, aku mencoba untuk bangkit dengan mengangkat tanganku, maksudnya adalah berat tubuhku juga ikut terangkat. Tapi,Bruuuukk!!!Ya Alloh..Please donk..Tanganku malah ikut masuk selokan juga. Disebrang sana tukang bubur yaitu Mang Usep beserta pelanggannya yang lagi makan bubur, kaget sekaligus mukanya memerah menahan tawa. Mang Oday yang setia kepadaku, ternyata tak setia menolongku, malah celingukan dan bingung melihatku terperosok. Duuuuuuhhh….numpang tanya deh ke toko sebelah…malunya aku kayak gimana….super duper malu yang tak terkira,rasa sakit karena tangan dan kakiku memar, dan Mnag Oday yang hanya bilang..”Teu Nanaon Neng??”Haaahh..??Kecebur di selokan masih bilang teu nanaon???
chappeee..deehh…!!!

Comments (2) »

Tes Formatif

“Anak - anak, besok adalah waktunya tes formatif Matematika tentang perkalian”kataku. Sebagian anak berkata “Yes!!”dan beberapa anak ada yang menunjukkan muka pasrah menghadapi sekelumit soal - soal perkalian yang siap menghantuinya nanti malam.Besoknya, datang juga hari dimana tes formatif itu berlangsung. Soal dibagikan, dan mulailah anak - anakku bekerja mengerjakan soal. Komat - kamit menghitung, garuk - garuk kepala, menekuk muka, memancungkan mulut, bahkan bolak - balik ke kamar mandi karena beser.

“Anak - anak, waktunya tinggal sepuluh menit lagi!”kataku menyeru. Respon yang terjadi bermacam macam, ada yang menjerit, melotot, berkeringat dingin, tapi ada juga yang senyum - senyum karena sudah beres mengerjakan dari tadi. Hanya butuh waktu10 menit bagi Aly untuk bisa mengerjakan 30 soal perkalian. Tapi, bagi Hilman, mengerjakan 30 soal perkalian sama saja menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan, berwudhu, dan shalat dzuhur.

“Anak - anak, waktunya habis!”kataku lagi. Semua mengumpulkan soal, dan hanya Hilman yang masih tinggal di bangku, masih mengerjakan soal.Aku menghampirinya, dan menemukan kondisi kertas ulangan yang kotor, penuh bekas hapusan pensil. Hilman memandangku sesaat, matanya menyiratkan permohonan untuk memaafkannya karena terlambat, sekaligus kepasrahan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan soal dengan baik.

“Bu, belum selesai dikerjakan soal ceritanya”katanya dengan wajah memelas dan lelah. Aku mengusap rambutnya, dan tersenyum getir. Hilman, seorang anak orang kaya, yang kurang perhatian,berjuang disini mengerjakan soal perkalian.Tapi, dia terus berjuang mengerjakan soal, walaupun teman - temannya sudah beres makan, sudah siap untuk shalat dzuhur, namun tekadnya besar untuk menyelesaikan semua soal perkalian itu.

Aku terkantuk - kantuk menunggui Hilman yang sedang mengerjakan ulangan. Tiba - tiba ada yang menggucang - guncangkan bahuku. “Bu, sudah selesai,ini kertas ulangannya, Hilman mau makan”. aku mengngguk dan menerima kertas ulangan itu.

Nomor 1,2,3,4,5….30
Benar semua!!!
Hilman yang selalu remedial saat formatif
Hilman yang selalu telat mengumpulkan soal formatif
Ternyata…
Tekad yang kuat, kemauan yang besar untuk belajar, berbuah manis..

Aahh…Muridku yang satu ini,
Kamu menginspirasi Ibu untuk tak patang arang, selalu berusaha dan tak kenal lelah
Ibu salut kepadamu Nak!
Semangat selalu ya Man!
I love You Son!

No comment »

Bule

               Saat itu, dikala hari menjelang malam, dan matahari sudah lelah menampakkan sinarnya hingga ingin tenggelam, tibalah saatnya bagi rembulan mengumbar cahayanya yang tenang. Nanang yang baru pulang dari kantor menyapa Mang Jana yang sedang mangkal di pangkalan ojek depan komplek. “Mang, kumaha yeuh? Rame teu penumpang dinten ieu?”Mang Jana dengan wajah yang lesu menjawab “yaaah..Nang, kieu weeehh..rada tiiseun, meuni ngahelas geuningan…”lalu Nanang pun menghiburnya “Yahh, sabar atuh Mang, mudah mudahan dapet penumpang”.

         Tiba - tiba ada seorang laki  laki dengan tubuhnya yang tegap, tinggi dan pakaiannya rapih menghampiri mereka. sontak Mang Jana memburu orang itu dengan melajukan motornya. Tapi, karena hari sudah gelap, wajah orang itu tak jelas terlihat. Lalu Mang Jana bertanya kepada orang itu. Namun sebelum bertanya, Mang Jana kaget ternyata orang itu orang bule. Karena kagum melihat orang bule yang akan naik ojeknya itu, Mang Jana berteriak pada Nanang.” Nang..Bule..Nang…Bule..Nang”Tiba - tiba orang bule itu menampar Mang Jana. Pllakk!!Mang Jana kaget, lalu segera naik pitam karena harkat martabatnya sebagai tukang ojek yang disegani merasa dilecehkan oleh orang bule. Mang Jana marah  marah” Apa maksud kamu teh, naha beut nyabok sayah??!Si bule tersebut mejawab dengan marah  marah juga “urang teu tarima disebut bolenang, buuk urang masih ayaan nyaho teu??!!”lalu si Bule tadi meleos begitu saja. Mang Jana tercenung, ada bule bisa ngomong bahasa sunda, namun lebih tercenung lagi ketika dia ditampar oleh bule. Dan sungguh - sungguh tercenung ketika melihat Nanang hanya melongo gitu aja, dan mengangkat tangan tanda tidak ikut campur, sambil pergi dari hadapan Mang Jana.

Duuuhh..Bule…betapa kejamnya dirimu kepada tukang ojek seperti Mang Jana…teungteuingeun atuh. bule teh….

Comments (8) »