“Anak – anak, besok adalah waktunya tes formatif Matematika tentang perkalian”kataku. Sebagian anak berkata “Yes!!”dan beberapa anak ada yang menunjukkan muka pasrah menghadapi sekelumit soal – soal perkalian yang siap menghantuinya nanti malam.Besoknya, datang juga hari dimana tes formatif itu berlangsung. Soal dibagikan, dan mulailah anak – anakku bekerja mengerjakan soal. Komat – kamit menghitung, garuk – garuk kepala, menekuk muka, memancungkan mulut, bahkan bolak – balik ke kamar mandi karena beser.
“Anak – anak, waktunya tinggal sepuluh menit lagi!”kataku menyeru. Respon yang terjadi bermacam macam, ada yang menjerit, melotot, berkeringat dingin, tapi ada juga yang senyum – senyum karena sudah beres mengerjakan dari tadi. Hanya butuh waktu10 menit bagi Aly untuk bisa mengerjakan 30 soal perkalian. Tapi, bagi Hilman, mengerjakan 30 soal perkalian sama saja menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan, berwudhu, dan shalat dzuhur.
“Anak – anak, waktunya habis!”kataku lagi. Semua mengumpulkan soal, dan hanya Hilman yang masih tinggal di bangku, masih mengerjakan soal.Aku menghampirinya, dan menemukan kondisi kertas ulangan yang kotor, penuh bekas hapusan pensil. Hilman memandangku sesaat, matanya menyiratkan permohonan untuk memaafkannya karena terlambat, sekaligus kepasrahan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan soal dengan baik.
“Bu, belum selesai dikerjakan soal ceritanya”katanya dengan wajah memelas dan lelah. Aku mengusap rambutnya, dan tersenyum getir. Hilman, seorang anak orang kaya, yang kurang perhatian,berjuang disini mengerjakan soal perkalian.Tapi, dia terus berjuang mengerjakan soal, walaupun teman – temannya sudah beres makan, sudah siap untuk shalat dzuhur, namun tekadnya besar untuk menyelesaikan semua soal perkalian itu.
Aku terkantuk – kantuk menunggui Hilman yang sedang mengerjakan ulangan. Tiba – tiba ada yang menggucang – guncangkan bahuku. “Bu, sudah selesai,ini kertas ulangannya, Hilman mau makan”. aku mengngguk dan menerima kertas ulangan itu.
Nomor 1,2,3,4,5….30
Benar semua!!!
Hilman yang selalu remedial saat formatif
Hilman yang selalu telat mengumpulkan soal formatif
Ternyata…
Tekad yang kuat, kemauan yang besar untuk belajar, berbuah manis..
Aahh…Muridku yang satu ini,
Kamu menginspirasi Ibu untuk tak patang arang, selalu berusaha dan tak kenal lelah
Ibu salut kepadamu Nak!
Semangat selalu ya Man!
I love You Son!
Wilujeng sumpring……! Hehehhehe, maap baru mamper…
“tulislah apa yang ada dalam fikirianmu, karena yg ditulis itu akan abadi dan yang didalam fikiran itu akan hilang bak angin yg berlalu”
http://kita-kita.blogs.friendster.com [] reza on my soulexpression….
thanks udah berkunjung, antar mah lebih rajin lagi mengurusi blog ini, udah jadul, belum di up date wae